PhILosoPHy (Forum Diskusi FiLSafAt)

TUHAN tidak pernah menciptakan manusia setara. Patut diteliti tiap2 sumber sejarah, bahwa suatu peradaban yang kufur (iri dan hasad) dari nikmat special ras2 tertentu (kaum yang dilebihkan TUHAN dari kaum lainnya) pasti mengalami kemunduran, kemiskinan, kelaparan dan bencana.

Rav. Martin Buber, “GOOD AND EVIL: Two Interpretations”

THE lie is the specific evil which man has introduced into nature. All our deeds of violence and our misdeeds are only as it were a highly-bred development of what this and that creature of nature is able to achieve in its own way. But the lie is our very own invention, different in kind from every deceit that the animals can produce. A lie was possible only after a creature, man, was capable of conceiving the being of truth.

Pernyataan misi PhILosoPHy (Forum Diskusi FiLSafAt)

PhILosoPHy (Forum Diskusi FiLSafAt) adalah wadah untuk orang-orang pemberani dari kaum pria dan perempuan ras kita yang berjuang bagi kelestarian budaya dan tujuan adilihung Leluhur. Kami mempergunakan amandemen kebebasan berbicara dan berpendapat serta perihal yang berkaitan dengannya lewat manifestasi sebuah forum perencanaan strategi, kelompok studi sosial-ilmiah untuk memastikan kemenangan sebagai tujuan dan martabat perjuangan kita.

Al Maidah (QS 5: 20) 21

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain".

Yohanes 8:32

“Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Blogroll

Jumat, 02 Maret 2012

Bahasa Melayu dan Pengaruh Bahasa Cina

Bahasa Melayu dan Pengaruh Bahasa Cina

1. Pengantar
Gopek dan cepek adalah dua kata yang biasa didengar dalam bahasa Melayu Betawi. Menurut Muhadjir, kedua kata itu adalah bukti bahwa bahasa Betawi telah menyerap beberapa kosakata dari bahasa Cina. Serap-menyerap ini memang merupakan suatu bentuk pengaruh dari sebuah bahasa tertentu terhadap bahasa yang lain.
2. Pengaruh Itu
Merunut sejarah bahasa Melayu sama saja dengan menemukan kembali berbagai pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Melayu, dan salah satu dari bahasa itu adalah bahasa Cina. Di samping bahasa Cina, sebenarnya ada beberapa bahasa asing lain yang ikut serta memberikan pengaruh terhadap bahasa Melayu (misalnya bahasa Sanskerta, bahasa Arab dan beberapa bahasa di Eropa) namun tulisan ini hanya mengkhususkan diri pada pengaruh yang terdapat pada bahasa Melayu dari bahasa Cina.
Bagaimana tidak, kita tidak mungkin bisa melupakan bahwa kata Melayu itu sendiri ditemukan pertama kali dalam berita Cina. Meski tidak sama persis secara fonologis, banyak pakar (terutama ilmu sejarah) yang menafsirkan kata Mo- lo-yue dalam berita itu sebagai sebuah kerajaan di Sumatra. Kenyataan bahwa berita itu sendiri menggunakan aksara Cina mengisyaratkan hubungan yang sudah lama antara bangsa Cina dan bangsa Melayu. Menurut catatan, berita tersebut berasal dari tahun 644 dan 645 Masehi.
Kira-kira tahun 1560 Masehi, kosakata bahasa Melayu yang diduga memiliki keterkaitan dengan bahasa Cina telah dikumpulkan oleh Yang Lin. Tidak tanggung-tanggung, di paruh abad ke-16 M itu juru tulis kearsipan di ibu kota Kerajaan Cina ini berhasil mengumpulkan sebanyak 500 kosakata. Ranah bahasa yang banyak mendapat pengaruh tersebut adalah ranah ekonomi dan nama barang. Barang-barang impor nan mewah, yang tidak terdapat di bumi Melayu, langsung saja diserap oleh bahasa Melayu berikut namanya.
Karena bahasa Melayu tidak memiliki tingkat kekerabatan yang relatif dekat dengan bahasa Cina, maka bisa diasumsikan bahwa kata-kata dalam bahasa Melayu yang mirip dengan (atau terdapat dalam) bahasa Cina merupakan kata pinjaman. Bahasa Melayu telah meminjam kata itu dari bahasa Cina lalu menggunakannya.
Sebagai perbandingan, Edwards dan Blagden (1930-1932) dalam Collins (2005) mencatat sejumlah kata yang diasumsikan berasal dari bahasa Cina (dinasti Ming). Berikut kata-kata yang dikutip dari Collins:
 Entri Ming  Makna  Melayu Modern  Makna
chia pu erh kamfer kapur kamfer
ko lo ma kurma Cina kurma (Pers.) kurma
chen chieh cengkeh cengkeh cengkeh
pa wan lam pualam pualam (Tam.) marmer
ka mo ku su kemukus kemukus kemukus
yin tan gerudi intan intan intan

Selanjutnya Collins mengulas bahwa kata-kata yang diserap oleh bahasa Melayu di atas sulit ditebak sebagai bukan bahasa Melayu apabila tidak dipisah-pisahkan seperti contoh di atas. Misalnya, kata kata kemukus yang diambil dari kata ka mo ku su.
3. Bahasa Melayu dan Bahasa Cina; Suatu Perbandingan Sederhana
Menilik bahasa Cina dan bahasa Melayu lalu mencari persamaan di antara keduanya memang akan sulit dilakukan. Apabila hal itu dilakukan juga, bukan persamaan tentunya yang banyak didapat melainkan perbedaan.
Secara ilmu bunyi (fonologis), bahasa Cina dan bahasa Melayu memang agak berbeda. Coba saja lihat bunyi-bunyi yang ada dalam bahasa Cina, sebagiannya tidak terdapat dalam bahasa Melayu. Begitu pula ada sebagian bunyi yang terdapat dalam bahasa Melayu tidak terdapat dalam bahasa Cina. Bunyi yang terdapat dalam bahasa Cina dan tidak terdapat dalam bahasa Melayu seperti adanya nada yang membedakan arti, sementara dalam bahasa Melayu nada secara umum tidaklah mempengaruhi arti sebuah kata. Untuk bunyi konsonan, dalam bahasa Cina terdapat konsonan zh ch sh, sedangkan bahasa Melayu tidak memiliki konsonan tersebut. Di sisi lain, bahasa Melayu memiliki konsonan /r/ dan membedakannya dari /l/, sementara itu bahasa Cina tidak demikian.
Mengenai nada yang tadi dibicarakan, contoh yang umum dari nada yang digunakan oleh bahasa Cina dapat dilihat di bawah ini:
 Contoh Kata  Arti Kata  Jenis Nada
(mā) "mama" nada tinggi
(má) "rami" atau "lamban" tinggi menaik
(mǎ) "kuda" rendah menurun-menaik
(mà) "memaki" tinggi menurun
(ma) "partikel tanya" nada sedang

Perbedaan itu ternyata tidak hanya terbatas dalam bidang fonologis dan nada, tetapi juga dari suku kata. Umumnya, kata dalam bahasa Cina hanya terdiri dari satu suku kata atau hanya memiliki satu fonem vokal saja dengan berbagai variasi diftongnya. Contoh di atas dapat kita lihat kembali, kata /kuda/ yang terdiri dari dua suku kata: ku + da dalam bahasa Melayu menjadi /mǎ/ saja dalam bahasa Cina.
Bahasa Cina merupakan bahasa monosilabik (umumnya bersuku kata satu seperti terlihat pada tabel di atas). Hal ini bertolak-belakang dengan bahasa Melayu, yang menganut sistem dua suku kata (bisilabik), karena sistem inilah umumnya kosakata bahasa Melayu bersuku kata dua.
Dari sudut tipologi bahasa, bahasa Cina merupakan bahasa tone (bernada), sementara bahasa Melayu tidak memiliki tingkatan nada yang “serumit” bahasa Cina. Bahkan, nada dalam bahasa Melayu hampir-hampir tidak berfungsi apa-apa selain menambah keras volume suara.   
Berangkat dari perbedaan-perbedaan semacam ini dan perbedaan lainnya, para ahli menyimpulkan bahwa bahasa Melayu tidak berkerabat secara langsung dengan bahasa Cina. Bahasa Melayu termasuk ke dalam rumpun Austronesia sedangkan bahasa Cina masuk ke dalam rumpun Sino-Tibet.
Karena bahasa Melayu berasal dari rumpun yang berbeda dengan bahasa Cina, maka hanya ada satu kemungkinan tentang kata-kata bahasa Melayu yang mirip dengan bahasa Cina, yaitu bahwa bahasa Melayu telah meminjam kata-kata tersebut dari bahasa Cina (khususnya bahasa Cina dinasti Ming).
4. Kreativitas Bahasa Melayu
Memperhatikan kosakata-kosakata di atas menyebabkan timbulnya pertanyaan yang biasa terjadi pada kata serapan. Bahwa bahasa Melayu tidak menyerap mentah-mentah kata-kata bahasa Cina tersebut tanpa melakukan perubahan apa-apa terhadapnya. Akan tetapi bahasa Melayu melakukan apa yang disebut pinjam ubah. Bahasa Melayu meminjam kata tersebut dan mengubahnya sehingga sesuai dengan sistem tata bahasanya sendiri.
5. Pengaruh Bahasa Cina terhadap Bahasa Indonesia (Melayu) Dewasa Ini
Apabila kata yang disebut-sebut dalam pengantar digunakan oleh bahasa Melayu Betawi yang bukan merupakan bahasa resmi, tentu kita perlu bertanya bagaimana dengan bahasa Melayu yang ditetapkan sebagai bahasa resmi dari Negara Republik Indonesia? Apakah pengaruh bahasa Cina juga dirasakan oleh bahasa Indonesia?
Situs wikipedia.com telah mencatat dan menjawab pertanyaan itu sekaligus. Bahwa terdapat sejumlah kata yang masih digunakan oleh bahasa Indonesia berasal dari bahasa Cina. Situs itu juga menyebut bahwa kebanyakan kata-kata yang diserap itu hanya dipakai di kalangan tertentu, yaitu Hokkien yang berada di provinsi Fujian. Tempat asal mayoritas pendatang yang merantau dari Cina ke Indonesia.
Setelah digolong-golongkan, ternyata kata-kata yang diserap itu terutama digunakan dalam laras-laras tertentu. Misalnya laras yang berhubungan dengan dapur dan makanan; teh, tahu, kecap, bakmi, bakso, soto dan sate. Laras lain adalah laras kebudayaan, terutama yang berhubungan dengan budaya Tionghoa; imlek, hongshui, shio dan sebagainya. Sementara itu, kata-kata serapan yang berhubungan dengan senjata api malah tidak ada. Sila klik.
6. Kesimpulan
Pengaruh bahasa Cina terhadap bahasa Melayu telah berlangsung sejak abad ke-15. Namun demikian, pengaruh tersebut masih terlihat pada bahasa Melayu sekarang. Terutama pada bahasa Melayu di daerah tertentu. Dalam menerima pengaruh Cina tersebut, bahasa Melayu mampu membuat penyesuaian-penyesuaian sendiri di berbagai tataran kebahasaan terutama fonologis, morfologis. Akibatnya, sebagian kata-kata tersebut susah untuk dirunut lagi secara etimologis bentuk asalnya. Hal itu tidak lain disebabkan struktur bahasa Cina yang jauh berbeda dengan bahasa Melayu.   
(SR/bhs/44/09-07)
Sumber :
  • Anonim. 2000-2005. (http://www.ethnologue.com, 17/09/07)

  • Anonim. tt. Chinese Language. (http://en.wikipedia.org/wiki/Chinese_language#Phonology, 17/09/07)

  • Basyarsyah II, Tuanku Lukman Sinar & Wan Sayifuddin. 2002. Kebudayaan Melayu Sumatera Timur. Medan: USU Press. 

  • Collins, James T. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia Sejarah Singkat (penerjemah Evita Elmanar). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • David K. Jordan . 2007. The Chinese Language(s). (http://weber.ucsd.edu/~dkjordan/chin/hbchilang-u.html#pt2, 17/09/07)

  • Lubis, A. Hamid Hasan. 1988. Glosarium Bahasa dan Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa.
  • Muhadjir. 2000. Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Poedjosoedarmo, Soepomo. 2006. Perubahan Tata Bahasa: Penyebab, Proses dan Akibatnya (pidato pengukuhan guru besar). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
  • Jacques, Guillaume. 2006. Introduction to Chinese Historical Phonology (http://xiang.free.fr/leiden-en.pdf, 18/09/07)
_____________________________________
amah ‘amoy‘, angkin ‘angkong‘, anglo ‘anglong‘, angpao ‘angsiau‘,
bakmi ‘bakmi‘,  bakpau ‘bakpau‘, bakpia ‘bakpia‘, barongsai ‘barongsai‘.
cici ‘kakak‘,
dim sum ‘dimsum‘, doku ‘duit‘.
gin coa ‘gincu‘, ginkang ‘giwang‘.
hoki ‘hoki‘,
imlek ‘imlek‘
kung fu ‘kungfu‘.
lun pia ‘lumpia‘
_____________________________________

Dimulai dengan بسم الله, diawali dengan tangan kanan


Dimulai dengan بسم الله, diawali dengan tangan kanan. Bukan berasal dari Adam dan Hawa, bukan pula dari binatang, atau pula dari sebongkah batu. Jika kita menilik kisah penciptaan Alam Semesta, Kehidupan bermula dari Ledakan supernova, tumbukan bintang yang berevolusi untuk menjadi seperti kita sekarang ini: http://teknologi.inilah.com/read/detail/1705052/makhluk-di-bumi-berasal-dari-bintang

Di abad ke XXI ini, manusia akan kembali lagi kepada ASTROLOGY:
http://en.wikipedia.org/wiki/Astrology
http://en.wikipedia.org/wiki/Hindu_astrology
http://en.wikipedia.org/wiki/Astrology_in_medieval_Islam
http://en.wikipedia.org/wiki/Chinese_astrology
http://en.wikipedia.org/wiki/Western_astrology
http://en.wikipedia.org/wiki/Cultural_influence_of_astrology

Pemikir berani dan kreatif, Giovanni Pico della Mirandola berusaha bergabung dengan aspek terbaik dari semua sekolah filsafat ke dalam sistem tunggal pemikiran. http://www.facebook.com/photo.php?fbid=198962466857372&set=o.205868254855&type=3

Tentu Bumi dan alam semesta ada awal mula serta proses, dan dia bukan ada secara tiba-tiba: http://id.wikipedia.org/wiki/Astronomi

Manusia tidak pula jatuh dari langit: http://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi

Nukilan Syair Jalalludin Rumi mengenai Evolusi:
AKAN JADI APA DIRIKU
Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput;
Aku telah alami tujuh ratus dan tujuh puluh bentuk.
Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati, Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat,
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.

Engels dalam polemic Anti-Dühring (1878) menulis “Dialektika Alam”. Pokok Sintesanya: Evolusi Kuantitatif menjadi Kualitatif: http://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1883/dialektika.htm
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=265201776871368&set=o.205868254855&type=3

Kecerdasan, tingkat IQ. Cara manusia berperilaku, cara berjalan, mengapa manusia tidak memiliki sayap, mengapa cara manusia beradaptasi berbeda dengan burung ? Persepsi manusia terhadap warna, garis, bentuk, memori, perasaan, afeksi, itu semua adalah cermin urut perkembangan laju evolusi dari mekanisme pertahanan hidup seorang manusia menghadapi tantangan alam. : http://en.wikipedia.org/wiki/Evolutionary_psychology
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=122164547900871&set=o.205868254855&type=3
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2159294298998&set=o.205868254855&type=3

http://www.facebook.com/notes/debat-filsafat/konsep-fisika-entropy-untuk-memahami-dinamika-manusia-dan-lingkup-sosial-nya/132946306762254?comment_id=932780
http://www.humanthermodynamics.com/

http://www.scribd.com/chandrashekarbesta/d/19586553-Laws-of-Thermodynamics-and-the-Human-Body

Zi Wei Dou Shu (3) - Stars

The first system of astrology in China was known as “Five-Star System – Wu Xing Shu 五星術”. It uses the five planets:

Jupiter 【歳星】 – Wood Star

Mars 【荧惑】 – Fire Star

Saturn 【鎮星】 – Earth Star

Venus 【太白】 – Gold Star

Mercury 【辰星】 – Water Star

Later, the Sun 【Tai Yang 太陽】 and the Moon 【Tai Yin 太陰】 were included.

These were real heavenly bodies and astronomical calculations were used to locate them for astrological purposes.

There were four other heavenly bodies introduced:

【紫氣】 – Wood Residue

【月孛】 – Water Residue

【羅睺】 – Fire Residue

【計都】 – Earth Residue

The system is now known as Seven Proper and Four Residues (七政四餘).

The four residues are speculatively associated with Neptune, Uranus, Pluto and a Comet.

Both Zi Ping Shu (子平術) and Zi Wei Dou Shu (紫微斗數) were inventions to replace Qi Zheng Si Yu. They both gave up using real astronomy to do the charting. Zi Ping Shu or Four Pillars Destiny Analysis (四柱命理學) uses the ten stems and twelve branches but some special combinations owe their origin to Qi Zheng Si Yu. For example, stars used in Zi Ping Shu like Hong Luan 红鸞, Tian Yi Gui Ren 天乙貴人 have the corresponding stars in Qi Zhen Si Yu. Likewise, they also appear in Zi Wei Dou Shu.

The stars we use in Zi Wei Dou Shu have a lot in common with the real stars in Qi Zheng Si Yu. However, it is interesting to note that the names of some major stars are based on names derived from Buddhism. For example:

The Chinese names of the stars in the Big Dipper are:

(1) Tian Shu 天樞 (2) Tian Xuan 天璇 (3) Tian Ji 天璣 (4) Tian Quan 天權 (5) Yu Heng 玉衡 (6) Kai Yang 開陽 (7) Yao Guang 摇光

The corresponding names used in Zi Wei Dou Shu are:

(1) Tan Lang 貪狼 (2) Ju Men 巨門 (3) Lu Cun 祿存 (4) Wen Qu 文曲 (5) Lian Zhen 廉貞 (6) Wu Qu 武曲 (7) Po Jun 破軍

Suffice it to say that the stars we use in Zi Wei Dou Shu are virtual stars pretending to be the real stars we see on the sky. In other words, it is a system of life reading but only virtual astrology.

SOURCES: JY http://fsrcenter.blogspot.com/2011/06/zi-wei-dou-shu-3-stars.html
— with Bintang Timoer.

Peringkat Inteligensi Mahluk Hidup disusun dari yang terendah hingga yang paling tinggi

Peringkat Inteligensi Mahluk Hidup disusun dari yang terendah hingga yang paling tinggi.

"Another is the prefrontal area of the brain, a region that is substantially more developed in humans than unhumans an in other primates, and is involved in operations that we associate with intelligence."

" Some are more highly organized than others, and possess a higher order of the instincts, but even this does not reach so high as the reason. And it may be admitted that there are different degrees of development among the same class of animals, that one is shrewd and cunning, another stupid and easily trapped ; one leads and another follows, and it may be inferred that there are organic reasons for this."

Antara ras MASTER dan ras BUDAK 'Sudra' aka NEGROID memiliki gen yang berbeda


GAMBAR KIRI adalah ras dalit-hitam-jelek-hina (Jika ada mahluk seperti gambar di kiri tampil pada saat anda menyantap makanan, perut anda pasti mual).
Sedangkan GAMBAR KANAN ADALAH 'AISHWARA RAY' dari kasta Vaishya-cantik-putih-indah-mempesona.
"Dalit'/ ras paling rendah, paling hina di India menemukan bahwa leluhur mereka memiliki pertalian dengan ras Afrika Negro. Di Maharastra - India, tahun 1991 'seekor' polisi dari ras Dalit dibunuh massa yang tersinggung setelah 'seekor' itu mencoba memasuki kuil suci Hindu. ~ yz ~

Peradaban India disusun bukan saja lewat pembagian antara kasta/ profesi, namun lebih tepat dinamakan stratifikasi berdasarkan pembagian ras (racial division). Penelitian muktahir membuktikan bahwa antara ras MASTER dan ras BUDAK 'Sudra' aka NEGROID memiliki gen yang berbeda. Ini membuktikan secara langsung para budak dan para master memiliki nenek moyang yang berbeda. Ras sudra/ budak adalah ras hitam yang nenek-moyangnya ditahlukkan oleh para leluhur Indo-Arya berkulit terang 3000 tahun lampau. ~ yz ~

Semakin besar dan Panjang, menyimbolkan kekuatan ego dan naluri 'struggle of the fittest'


Jaman dahulu di Arab, para pangeran yang baru lahir hidungnya ditarik2 agar besar dan panjang, mancung. Menurut tradisi mereka mustahil manusia dengan hidung yang tidak 'xtra size' mampu menjadi manusia besar/ pemimpin.

Ini adalah foto Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, raja Uni Emirat Arab (UEA), sekaligus pemimpin paling disegani dan terkaya UAE.
http://en.wikipedia.org/wiki/Zayed_bin_Sultan_Al_Nahyan
BUKTI KEKAYAANNYA: http://katon-ninja.blogspot.com/2011/01/rumah-sheikh-zayed-bin-sultan-al-nahyan.html

Semakin besar dan Panjang, menyimbolkan kekuatan ego dan naluri 'struggle of the fittest'. Namun juga harus proporsional dengan feature wajah keseluruhan (tidak ekstrim). Bangsa arab dimana2 menjadi pemimpin, karena bentuk hidung mereka yang memaksa mereka bertindak semacam itu. Sedangkan hidung paruh Yahudi (semacam punya Soros) membuat mereka sebagai konsultan uang yg paling sukses di muka bumi.

Bangsa Asia itu rata2 mungil dan bangir, menyiratkan perilaku hedonis, pemalas, tidak percaya diri, lebih suka menjadi alas kaki yg kuat daripada menginjak2 yg lemah. Maka selalu dijajah bangsa Eropa dengan feature hidung lebih besar dan panjang. Namun berbeda dengan profil Soeharto, ini termasuk feature Eropa, maka kepemimpinannya juga fenomenal diantara bangsanya: http://www.klikunic.com/2011/05/survei-soeharto-presiden-yang-paling.html.

A person tells a lot through his nose


Beginning at the top between the eyes represents age zero, and following down to the nostrils represents the end of the lifespan. Look for markings on the nose, to tell at which age significant matters happen.

The Persons' Ego is represented by the nose, and bridges a persons' higher and lower self. I guess this is especially true if their Ego.

(self image ) caused them to get a "nose job". However; these descriptions refer to the "natural nose".

The size of the nose represents the resourcefulness of the individual; the larger the more resourceful, the the smaller; indicating more dependance on others.

A Short nose: belongs to someone who is generally happy.

A Small nose: belongs to someone who is quiet.

If the person has a small upturned nose, the self image is usually frail, but strengthens with age, this snub nose indicates amiability, but also a weakness of purpose.

A turned up nose: signals tenacity, sometimes to the extent of disregard for others.

A turned down nose: shows a person who is meticulous & often conservative.

A Wide nose: belongs to a generally careless person.

A Large nose: belongs to someone who is open-minded, and assertive.

A Thin pointed nose: shows a jealous nature & someone shows someone generally easily irritated.

A Long nose: belongs to someone who is careful & shows perseverance and social concern.

Large nostrils shaw strong character and reliability.

Flesh around the nostrils represents the subconscious.

CHAPTER VIII. Of the Eyes and Eyebrows (II)

The Eyebrows.

Eyebrows regularly arched are characteristic of feminine youth ; rectilinear and horizontal, are masculine; arched and the horizontal combined, denote masculine understanding and feminine kindness. Wild and complexed, denote a corresponding mind, unless the hair be soft, and they then signify gentle ardour. Compressed, firm, with the hair running parallel as if cut, are one of the most decisive signs of a firm, manly, mature understanding, profound wisdom, and a true and unerring perception.

Meeting eyebrows, held so beautiful by the Arabs, and by the old physiognomists supposed to be the mark of craft, I can neither believe to be beautiful nor characteristic of such a quality. They are found iii the most open, honest, and worthy countenances. It is true they give the face a gloomy appearance, and perhaps denote trouble of mind and heart. Sunken eyebrows, says Winkelmann, impart something of the severe and melancholy to the head of Antinous.

I never yet saw a profound thinker, or even a man of fortitude and prudence, with weak, high eyebrows, which in some measure equally divide the forehead. Weak eyebrows denote phlegm and debility, though there are choleric and powerful men who have them; but this weakness of eyebrows is always a deduction from power and ardour. Angular, strong, interrupted eyebrows, ever denote fire and productive activity. The nearer the eyebrows are to the eyes, the more earnest, deep, and firm the character. The more remote from the eyes, the more volatile, easily moved, and less enterprising, remote from each other, warm, open, quick sensation. White eyebrows signify weakness; and dark brown firmness. The motion of the eyebrows contains numerous expressions, especially of ignoble passions, pride, anger, and contempt.


..............................................................
PHYSIOGNOMY;
OR,
THE CORRESPONDING ANALOGY BETWEEN THE
CONFORMATION OF THE FEATURES
AND THE RULING PASSIONS OF THE MIND :
A COMPLETE EPITOME OF THE ORIGINAL WORK
or
J. G. LAVATER.
1866.
..............................................................

CHAP. IX. Of the Nose


I HAVE generally considered the nose as the foundation or abutment of the brain. Whoever is acquainted with the Gothic arch, will perfectly understand what I mean by this abutment: for upon this the whole power of the arch of the forehead rests, and without it the mouth and cheeks would be oppressed by miserable ruins.

A beautiful nose will never be found accompanying an ugly countenance. An ugly person may have fine eyes, but not a handsome nose. I meet with thousands of beautiful eyes before one such nose; and wherever I find the latter it denotes an extraordinary character. The following is requisite to the perfectly beautiful nose:

Its length should equal the length of the forehead. At the top should be a gentle indenting. Viewed in front, the back should be broad, and nearly parallel, yet above the centre something broader. The button or end of the nose must be neither hard nor fleshy, and its under outline must be remarkably definite, well delineated, neither pointed nor very broad. The sides seen in front must be well defined, and the descending nostrils gently shortened. Viewed in profile, the bottom of the nose should not have more than one-third of its length. The nostrils above must be pointed; below, round, and have in general a gentle curve, and be divided into two equal parts by the profile of the upper lip. The sides or arch of the nose must be a kind of wall above, it' must close well with the arch of the eye-bone, and near the eye must be at least half an inch in breadth. Such a nose is of more worth than a kingdom. There are, indeed, innumerable excellent men with defective noses, but their excellence is of a very different kind. I have seen the purest, most capable, and noblest persons, with small noses, and hollow in profile; but their worth most consisted in suffering, listening, learning, and enjoying the beautiful influences of imagination; provided the other parts of the form were well organized. Noses, on the contrary, which are arched near the forehead, are capable of command, can rule, act, overcome, and destroy. Rectilinear noses may be called the keystone between the two extremes. They equally act and suffer with power and tranquility.

Boerhaave, Socrates, Lairesse, had, more or less, ugly noses, and yet were great men ; but their character was that of gentleness and patience. I have never yet seen a nose with a broad back, whether arched or rectilinear, that did not appertain to an extraordinary man. We may examine thousands of countenances, and numbers of portraits of superior men, before we find such a one.

These noses were possessed, more or less, by Eaynal, Faustus Socinus, Swift, Caesar Borgia, Clepzecker, Anthony Pagi, John Charles von Enkenberg (a man of Herculean strength), Paul Sarpi, Peter de Medicis, Francis Caracci, Casini, Lucas van Leyden, Titian. There are also noses that are not broad backed, but small near the forehead, of extraordinary power; but their power is rather elastic and momentary than productive.

The Tartars generally have flat indented noses; the Negroes broad, and the Jews hawk noses. The noses of Englishmen are seldom pointed, but generally round. The Dutch, if we may judge from their portraits, seldom have handsome or significant noses. The nose of the Italian is large and energetic. The great men of France, in my opinion, have the Small nostrils are usually an indubitable sign of unenterprising timidity. The open breathing nostril is as certain a token of sensibility, which may easily degenerate into sensuality characteristic of their greatness generally in the nose: to prove which, examine the collection of portraits by Perrault and Morin.

..............................................................
PHYSIOGNOMY;
OR,
THE CORRESPONDING ANALOGY BETWEEN THE
CONFORMATION OF THE FEATURES
AND THE RULING PASSIONS OF THE MIND :
A COMPLETE EPITOME OF THE ORIGINAL WORK
or
J. G. LAVATER.
1866.
..............................................................

CHAPTER VIII. Of the Eyes and Eyebrows.



CHAPTER VIII.
Of the Eyes and Eyebrows.

BLUE eyes are generally more significant of weakness, effeminacy, and yielding, than brown and black. True it is there are many powerful men with blue eyes ; but I find more strength, manhood, and thought, combined with brown than with blue. Wherefore does it happen that the Chinese, or the people of the Philippine Islands^ are very seldom blue-eyed ; and that Europeans only, or the descendants of Europeans, have blue eyes in those countries ? This is the more worthy of inquiry because there are no people more effeminate, luxurious, peaceable, or indolent than the Chinese.

Choleric men have eyes of every color, but more brown, and inclined to green, than blue. This propensity to green is almost *a decisive token of ardor, fire, and courage. I have never met with clear blue eyes in the melancholic, seldom in the choleric; but most in the phlegmatic temperament, which, however, had much activity. When the under arch described by the upper eyelid is perfectly circular, it always denotes goodness and tenderness, but also fear, timidity, and weakness. The open eye, not compressed, forming a long acute angle with the nose, I have but seldom seen except in acute and understanding persons.

Wide, open eyes, with the white seen under the apple, I have often observed in the timid and phlegmatic, and also in the courageous and rash. When compared, however, the fiery and the feeble, the determined and the undetermined, will easily be distinguished. The former are more firm, more strongly delineated, have less obliquity, have thicker, better cut, but less skinny eyelids.

"The colors most common to the eyes are, the orange, yellow, green, blue, grey, and grey mixed with white. The blue and orange are most predominant, and are often found in the same eye. Eyes supposed to be black are only yellow, brown, or a deep orange; to convince ourselves of which, we need but look at them closely; for when seen at a distance, or turned towards the light, they appear to be black, because the yellow brown color is so contrasted to the white of the eye, that the opposition makes it supposed black. Eyes also of a less dark colour pass for black eyes, but are not esteemed so fine as the other, because the contrast is not so great. There are also yellow and light yellow eyes, which do not appear black, because the colours are not deep enough to be overpowered by the shade.

"It is not uncommon to perceive shades of orange, yellow, grey, and blue, in the same eye; and whenever blue appears, however small the tincture, it becomes the predominant colour, and appears in streaks over the whole iris. The orange is in flakes, round, and at some little distance from the pupil; but it is so strongly effaced by the blue that the eye appears wholly blue, and the mixture of orange is only perceived when closely inspected.

“The finest eyes are those which we imagine to be black or blue. Vivacity and fire, which are the principal characteristics of the eyes, are the more emitted when the colours are deep and contrasted, rather than when slightly shaded. Black eyes have most strength of expression, and most vivacity; but the blue have most mildness, and perhaps are more arch. In the former there is an ardour uninterruptedly bright, because the colour, which appears to us uniform, every way emits similar reflections. But modifications are distinguished in the light which animates blue eyes, because there are various tints of colour which produce various reflections.

"There are eyes which are remarkable for having what may be said to be no colour. They appear to be differently constituted from others. The iris has only some shades of blue or grey, so feeble that they are in some parts almost white; and the shades of orange which intervene are so small that they scarcely can be distinguished from grey or white, notwithstanding the contrast of these colours. The black of the pupil is then too marking, because the colour of the iris is not deep enough, and, as I may say, we see only the pupil in the centre of the eye. These eyes are unmeaning, and appear to be fixed and aghast

" There are also eyes the colour of the iris of which is almost green ; but these are more uncommon than the blue, the grey, the yellow, and the yellow-brown. There are also people whose eyes are not both of the same colour.

" The images of our secret agitations are particularly painted in the eyes. The eye appertains more to the soul than any other organ ; seems affected by, and to participate in, all its motions ; expresses sensations the most lively, passions the most tumultuous, feelings the most delightful, and sentiments the most delicate. It explains them in all their force, in all their purity, as they take birth ; and transmits them by traits so rapid as to infuse into other minds the fire, the activity, the very image with which themselves are inspired. The eye at once receives and reflects the intelligence of thought, and the warmth of sensibility. It is the sense of the mind, the tongue of the understanding."

Again, "As in nature, so in art, the eyes are differently formed in the statues of the gods, and in heads of ideal beauty; so that the eye itself is the distinguishing token. Jupiter, Juno, and Apollo, have large, round, well-arched eyes, shortened in length, in order that the arch may be the higher. Pallas, in like manner, has large eyes ; but the upper eyelid, which is drawn up, is expressive of attraction and languishment. Such an eye distinguishes the heavenly Venus Urania from Juno ; yet the statue of this Venus bearing a diadem, has for that reason often been mistaken, by those who have not made this observation, for the statue of Juno. Many of the modern artists appear to have been desirous of excelling the ancients, and to give what Homer calls the ox-eye, by making the pupil project, and seem to start from the socket. Such an eye has the modern head of the erroneously supposed Cleopatra, in the Medicean villa, and which presents the idea of a person strangled. The same kind of eye a young artist has given to the statue of the Holy Virgin, in the church St. Carlo al Torso."

I shall quote one more passage from Paracelsus, who, though an astrological enthusiast, was a man of prodigious genius : " To come to the practical part, and give proper signs with some of their significations, it is to be remarked that blackness in the eyes generally denotes health, a firm mind not wavering, but courageous, true, and honourable. Grey eyes generally denote deceit, instability, and indecision. Short sight denotes an able projector, crafty, and intriguing in action. The squinting or false-sighted, who see on both sides, or over and under, certainly denotes a deceitful crafty person, not ... easily deceived, mistrustful, and not always to be trusted ; one who willingly avoids labour when he can, indulging in idleness, play, usury, and pilfering. Small and deep sunken eyes are bold in opposition ; not discouraged, intriguing, and active in wickedness ; capable of suffering much. Large eyes denote a covetous greedy man, and especially when they are prominent. Eyes in continual motion signify short or weak sight, fear, and care. The winking eye denotes an amorous disposition and foresight, and quickness in projection. The downcast eye shows shame and modesty. Ked eyes signify courage and strength. Bright eyes, slow of motion, bespeak the hero, great acts, audacious, cheerful, one feared by his enemies."

It will not be expected I should subscribe to all these opinions, they being most of them ill-founded, at least ill-defined.


..............................................................
PHYSIOGNOMY;
OR,
THE CORRESPONDING ANALOGY BETWEEN THE
CONFORMATION OF THE FEATURES
AND THE RULING PASSIONS OF THE MIND :
A COMPLETE EPITOME OF THE ORIGINAL WORK
or
J. G. LAVATER.
1866.
..............................................................

Dr. Tahir Kurang Ajar, Sumbang Singapur daripada Ibu Pertiwi !

Sumbangan Pendidikan Ke Singapura Dikritik

Bagus Santosa - Okezone 
Kamis, 5 Januari 2012 22:33 wib
Ilustrasi
Ilustrasi
JAKARTA - Sumbangan sebesar USD30 juta dari konglomerat, Dr Tahir untuk National University of Singapore (NUS) sangat disesalkan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Perhimpunan INTI).

Dewan Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan INTI, Tellie Gozelie, menganggap sumbangan dari Bos Mayapada Group ini dirasakan lebih pantas jika diberikan untuk negara sendiri ketimbang Singapura. Pasalnya, dunia pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dari negara-negara maju atau bahkan Singapura dan Malaysia.

"Pandangan saya sebagai bagian dari entitas warga tionghoa. Sumbangan Tahir ke NUS adalah Pelanggaran Nilai-nilai etika Kebangsaan dan Nasionalisme, Artinya dunia pendidikan tanah air masih perlu mendapat perhatian lebih dari segenap komponen bangsa mulai dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat umum," tulis Tellie lewat siaran persnya yang diterima okezone, Jakarta, Kamis (5/1/2011).

Lebih lanjut Tellie yang juga merupakan Anggota DPD RI berharap guna membantu pendidikan di negeri ini, ada baiknya warga negara Indonesia yang memiliki harta berlimpah kemudian menyumbangkan sebagian hartanya kepada lembaga pendidikan dalam negeri.

"Dalam kesempatan ini saya atas nama pribadi, sebagai anggota DPD-MPR RI, dan sebagai bagian dari entitas warga Tionghoa menghimbau kepada seluruh masyarakat warga negara Indonesia untuk mengedepankan etika kebangsaan dan menjunjung tinggi nasionalisme di tengah derasnya arus globalisasi sekarang ini," harapnya.

Sebelumnya, menurut Surat Kabar Inggris The Sunday Times, Minggu 1 Januari 2012, bahwa konglomerat Indonesia, Tahir memberikan sumbangan 30 juta US Dollar atau lebih kurang Rp270 miliar, untuk National University of Singapore (NUS). Jumlah ini merupakan sumbangan asing terbesar yang pernah diterima universitas ini.

Pada April 2011 lalu, Tahir juga telah menyumbangkan USD1 juta kepada University of California, Berkeley. Uang tersebut digunakan untuk beasiswa bagi siswa internasional yang menjalankan studinya dalam program MBA.
(fer)


 Bos Mayapada Tak Nasionalis 
Penulis: Achsin   
Kamis, 05 Januari 2012 20:22
Tellie Gozelie (IST)Tellie Gozelie (IST)
itoday – Pengusaha Indonesia yang juga bos Group Mayapada, Tahir yang telah menyumbang ke National University of Singapore (NUS) sebesar US$30 juta menunjukkan tindakan sangat tidak nasionalis.

Demikian dikatakan Dewan Penasehat Pengurus Pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Tellie Gozelie dalam rilis kepada wartawan, Kamis (5/1).

Menurut Tellie Gozelie, sumbangan Tahir melanggar nilai-nilai etika kebangsaan dan nasionalisme karena dunia pendidikan tanah air masih perlu mendapat perhatian lebih dari segenap komponen bangsa mulai dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat umum

“Sangat keliru jika ada warga negara Indonesia yang memiliki harta berlimpah kemudian menyumbangkan sebagian hartanya kepada lembaga pendidikan luar negeri yang notabene pendidikan sudah lebih maju dari Indonesia,” ungkapnya.

Tellie Gozelie mengajak entitas warga Tionghoa untuk mengedepankan etika kebangsaan dan menjunjung tinggi nasionalisme.

Sebagaimana berita sebelumnya, pemilik Group Mayapada, Tahir telah menyumbang US$30 juta atau lebih kurang Rp 270 miliar kepada National University of Singapore (NUS). Jumlah itu merupakan sumbangan terbesar yang pernah diterima universitas di Singapura itu dari orang asing selama ini.

DPD Kritik Sumbangan Konglemarat Indonesia ke Singapura

Laporan Wartawan Tribunnews.com Willy Widianto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengusaha Indonesia bernama Dr. Tahir memberikan sumbangan kepada National University of Singapore (NUS). Tidak tanggung-tanggung bos Mayapada Group itu mengeluarkan koceknya sebesar 30 Juta dolar AS atau Rp 270 Milyar pada awal bulan ini.
Menurut Surat Kabar Inggris The Sunday Times, Minggu (1/1/2012), sumbnagan konglomerat Indonesia tersebut merupakan sumbangan terbesar dari orang asing selama ini.
Sebelumnya Pada April 2011, Tahir juga telah menyumbangkan 1 juta dolar AS kepada University of California, Berkeley. Uang tersebut digunakan untuk beasiswa bagi siswa internasional yang menjalankan studinya dalam program MBA.
Terkait hal itu Dewan Penasehat Pengurus Pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Tellie Gozelie, menyayangkan sikap yang dilakukan oleh pengusaha Indonesia Dr. Tahir.
Tellie menilai sumbangan yang cukup besar tersebut sangatlah menyakitkan bangsa Indonesia, lantaran dunia pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dari negara-negara maju atau bahkan Singapura dan Malaysia.
"Pandangan saya sebagai bagian dari entitas warga tionghoa. Sumbangan Tahir ke NUS adalah Pelanggaran Nilai-nilai etika Kebangsaan dan Nasionalisme, Artinya dunia pendidikan tanah air masih perlu mendapat perhatian lebih dari segenap komponen bangsa mulai dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat umum," ungkap Tellie dalam siaran persnya kepada Tribunnews.com, Kamis(5/1/2012).
Lebih lanjut Tellie yang juga mengatakan jika ada warga negara Indonesia yang memiliki harta berlimpah kemudian menyumbangkan sebagian hartanya kepada lembaga pendidikan luar negeri yang notabene pendidikan sudah lebih maju dari Indonesia, maka hal itu merupakan sebuah kekeliruan.
"Dalam kesempatan ini saya atas nama pribadi, sebagai anggota DPD-MPR RI, dan sebagai bagian dari entitas warga Tionghoa mengimbau kepada seluruh masyarakat warga negara Indonesia untuk mengedepankan etika kebangsaan dan menjunjung tinggi nasionalisme di tengah derasnya arus globalisasi sekarang ini,"tegas anggota DPD ini.


Sumbangan Pengusaha Indonesia ke NUS Disesalkan  

Riski Adam
Sumbangan Pengusaha Indonesia ke NUS Disesalkan
05/01/2012 11:16
Liputan6.com, Jakarta: Dewan Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Tellie Gozelie menyayangkan sikap yang dilakukan pengusaha Indonesia Dr. Tahir. Tahir yang merupakan Bos dari Group Mayapada sebelumnya memberikan sumbangan kepada National University of Singapore (NUS) sebesar US$ 30 juta pada awal bulan ini.

Tellie menilai, sumbangan yang cukup besar tersebut sangatlah menyakitkan bangsa Indonesia. Lantaran dunia pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dari negara-negara maju atau bahkan Singapura dan Malaysia.

"Pandangan saya sebagai bagian dari entitas warga Tionghoa. Sumbangan Tahir ke NUS adalah pelanggaran nilai-nilai etika Kebangsaan dan Nasionalisme. Artinya dunia pendidikan Tanah Air masih perlu mendapat perhatian lebih dari segenap komponen bangsa mulai pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat umum," ungkap Tellie di Jakarta, Kamis (5/1).

Lebih lanjut Tellie yang juga merupakan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menjelaskan, jika ada warga negara Indonesia yang memiliki harta berlimpah kemudian menyumbangkan sebagian hartanya kepada lembaga pendidikan luar negeri, hal itu merupakan sebuah kekeliruan. Apalagi yang disumbang adalah lembaga pendidikan sudah lebih maju dari Indonesia.

Tellie mengimbau kepada seluruh warga negara Indonesia untuk mengedepankan etika kebangsaan dan menjunjung tinggi nasionalisme di tengah derasnya arus globalisasi.

Seperti diberitakan The Sunday Times, konglomerat Indonesia Tahir, pemilik Group Mayapada, memberikan sumbangan US$ 30 juta atau lebih kurang Rp 270 miliar untuk National University of Singapore (NUS). Jumlah itu merupakan sumbangan terbesar yang pernah diterima universitas di Singapora itu dari orang asing selama ini.

Sebelumnya Pada April 2011, Tahir juga menyumbangkan US$ 1 juta kepada University of California, Berkeley. Uang tersebut digunakan untuk beasiswa bagi siswa internasional yang menjalankan studinya dalam program MBA.(ULF)

Mahasiswa Singapura Belajar Peradaban Melayu ke Aceh


Para mahasiswa National University of Singapore (NUS), didampiingi Profesor Jan Van
Der Putten, melihat-lihat naskah kuno Aceh, di rumah Tarmizi A Hamid, di Ie Masen,
Banda Aceh, Rabu (22/02/2012

Banda Aceh - Delapan Mahasiswa National University of Singapore (NUS), sejak tiga hari terakhir melakukan kunjunga ke sejumlah situs bersejarah di Aceh. Para mahasiswa dari jurusan “Pengajian (Pengkajian-red) Melayu” ini sedang melakukan penelitian tentang jejak sejarah dan peradaban Melayu di Aceh.

”Saya rasa Aceh adalah salah satu dari sedikit daerah yang masih menyimpan banyak bukti sejarah Melayu, makanya saya sering memilih Aceh sebagai salah satu daerah yang wajib dikunjungi oleh mahasiswa saya,” kata Profesor Jan Van Der Putten, yang mendampingi para mahasiswanya, saat berkunjung ke rumah Kolektor Naskah Kuno Aceh, Tarmizi A Hamid, di Ie Masen, Banda Aceh, Rabu (22/02/2012).

“Masih sangat banyak bukti peradaban Melayu yang belum dikaji secara mendalam di Aceh,” kata Profesor asal Belanda ini.

Selama di rumah Tarmizi A Hamid, para mahasiswa ini mempelajari sejumlah kitab kuno yang umumnya ditulis dalam huruf jawi (bahasa Melayu dan Aceh).

Mereka mendapat penjelasan dari ahli filologi (kajian naskah kuno) dari Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry, Hermansyah. Karena huruf-huruf Jawi maupun kalimat yang tertulis dalam kitab itu sangat sulit dibaca oleh orang awam.

Zuliana, mahasiswa tahun ke-4 di NUS bidang Pengajian Melayu mengatakan, selain berkunjung ke rumah Tarmizi A Hamid, mereka juga sudah berkunjung ke Musium Aceh, Kampus Darussalam dan beberapa lokasi bersejarah lainnya.

“Insya Allah nanti sore kami akan ke Mahkamah Syar’iyah. Nanti juga akan ada kunjungan ke lokasi-lokasi sejarah tsunami. Rencananya kami masih ada waktu dua hari lagi di Aceh,” kata dia.

Uniknya, dari 8 mahasiswa jurusan Pengajian Melayu itu, hanya ada satu laki-laki, dan dia adalah keturunan Cina-Singapura. Dia adalah Ming Han, juga mahasiswa tahun ke-4 di NUS. (Serambi)

Kaji Naskah Kuno Aceh

Kedelapan Mahasiswa jurusan Pengajian Melayu National University of Singapore (NUS), sejak tiga hari terakhir melakukan pengkajian terhadap sejumlah bukti sejarah peradaban dunia Melayu di Aceh. Salah satu sumber pengkajian adalah melalui naskah kuno yang diyakini masih bertebaran di kalangan masyarakat Aceh.

“Dalam Sastra Melayu Klasik, posisi Aceh sangat penting. Di sini kita bisa melihat kitab-kitab lama yang ditulis oleh ulama dan penyair Aceh masa lalu,” kata Profesor Jan Van Der Putten, yang mendampingi para mahasiswanya, saat berkunjung ke rumah Kolektor Naskah Kuno Aceh, Tarmizi A Hamid, di Ie Masen, Banda Aceh, Rabu (22/2).

Putten berpendapat, kajian naskah kuno di Aceh punya tantangan dan keunikan tersendiri. Para mahasiswanya bisa langsung melihat naskah-naskah itu dari tangan para pewaris asli.

“Di Singapura memang ada juga naskah, sama seperti di Amerika atau belahan dunia lain. Tapi naskah-naskah ini sudah disimpan di gedung-gedung megah, gedung dingin ber-AC, sama sekali terpisah dari asal-usulnya. Makanya saya bawa anak murid saya ke sini (Aceh), agar mereka bisa melihat sendiri bagaimana suatu naskah dapat dilihat dalam konteks aslinya,” ujar Profesor asal Belanda ini.

Ia juga mengapresiasi kerja orang-orang Aceh, seperti Tarmizi A Hamid, yang dengan gigih mengumpulkan naskah kuno, mencoba menyelamatkan tradisi dengan membuka peluang bagi generasi yang ingin meneliti dan mengkaji sejarah kejayaan Bangsa Melayu.

“Itu amat sangat saya hargai. Yang mengkhawatirkan, ada pihak yang melihat ini naskah-naskah ini sebagai sesuatu yang sudah kedaluwarsa, dari masa lampau yang tidak sesuai lagi dengan masa sekarang. Itu selalu ada tantangan, bagaimana kita bisa menerjemahkan naskah ini untuk kepentingan masa kini, bahkan untuk masa depan,” ujarnya.(serambi)

Read more: http://www.atjehcyber.net/2012/02/mahasiswa-singapura-belajar-peradaban.html#ixzz1o471jjbK

KENAPA MAJORITI CiNA GAGAL BERBAHASA MELAYU DGN BAIK??



Kuala Lumpur, Malaysia
Bangsa Cina Malaysia Kurang Nasionalisme?

Pihak Kerajaan Persekutuan sedang menjalankan bancian di seluruh negara. Maka mulalah para petugas Kerajaan di arahkan ke seluruh pelusuk negara untuk membanci penduduk negara kita. Di kaca televisyen dan dicorong radio pula turut dimuatkan slot kempen membanci penduduk dan menyeru agar seluruh rakyat warganegara Malaysia memberikan kerja sama ke arah usaha kerajaan ini. Namun, apa yang mengejutkan, kita pasti terbaca mengenai dua respon yang berbeza dari dua pihak yang berbeza. Satu dari Datuk Wan Ramlah selaku Pesuruhjaya Banci dan Ketua Perangkawan Malaysia dan satu pihak lagi ialah akhbar-akhbar berbahasa Cina.

Posted in the Malaysia Forum http://www.topix.com/forum/world/malaysia/T4V0VK7CQO3QQKU98

Menurut Datuk Wan Ramlah, rakyat berbangsa Cina adalah yang paling banyak yang tidak memberikan kerjasama kepada petugas-petugas atau wakil-wakil kerajaan yang melakukan tugas bancian di seluruh negara. Dan alasan yang paling utama atau yang terbanyak diberikan oleh mereka ialah “wa ta tau cakap Melayu ooo..” atau memberikan isyarat bahawa mereka tidak tahu berbahasa Melayu. Bila petugas bancian cuba berbicara menggunakan bahasa Inggeris, lagilah mereka tak tahu. Sebetulnya, mereka hanya tahu “berbahasa Cina”. Itu belum lagi dikira dengan sikap mereka yang melepaskan anjing dengan tujuan menghalau petugas-petugas Kerajaan berkenaan. Berpeluh jugalah mereka lari dari “najis mughallazah” tersebut!

Berikutan itu, akhbar-akhbar berbahasa Cina pula seakan-akan membalas kenyataan Wan Ramlah itu dengan menyatakan bahawa masyarakat Cina sebenarnya enggan memberikan kerjasama kepada petugas-petugas Kerajaan kerana selama ini mereka menganggap pengurusan dan petugas Kerajaan adalah lembap, tidak suka membantu dan malas. Oleh kerana itulah mereka tidak mahu memberikan kerjasama kepada kempen membanci oleh Kerajaan ini. Di salahkan pula kepada Kerajaan dan petugas-petugasnya.

Pertamanya, saya tidak melihat isu sebegini diambil kesempatan oleh mana-mana pihak untuk dipolitikkan. Ini bukan perkara politik. Ini adalah isu nasionalisma atau kebangsaan. Ini adalah isu kenegaraan. Di sinilah kita menilai mengenai isu tanggungjawab dan semangat kewarganegaraan seseorang atau setiap bangsa yang menghuni negara Malaysia ini. Ini ialah semangat 1Malaysia.

Puteraja

Dari insiden “banci penduduk” ini, kita dapati bahawa kebanyakkan rakyat berbangsa Cina di Malaysia gagal berbahasa Melayu. Sedangkan Bahasa Melayu adalah bahasa rasmi dan bahasa yang wajib dipelajari seawal diperingkat sekolah lagi. Dari peringkat darjah satu hinggalah ke tingkatan lima atau enam, Bahasa Melayu diwajibkan “lulus” sebagai tiket untuk mendapatkan SPM. Setiap hari, bahasa pertuturan rasmi di dalam Malaysia adalah Bahasa Melayu, manakala Bahasa Inggeris pula adalah merupakan bahasa kedua terpenting di Malaysia.
Namun apa yang mengecewakan ialah sikap yang ditunjukkan oleh mereka yang berstatus “wargenegara Malaysia”, lahir di Malaysia, dan membesar di Malaysia, mereka masih gagal untuk bertutur di dalam Bahasa Kebangsaan tersebut. Sudahlah begitu, mereka juga tidak tahu berbahasa Inggeris? Apakah ini “semangat nasionalsima” yang ditunjukkan oleh bangsa Cina di Malaysia? Kenapa bangsa ini tidak mengambil contoh beberapa tokoh berbangsa mereka seperti Professor Khoo Kay Kim atau beberapa pemimpin MCA yang fasih berbahasa kebangsaan? Tidakkah mereka menghormati bahasa rasmi negara ini? Apakah ini kualiti “kewarganegaraan” yang dimiliki oleh bangsa Cina di seluruh negara di zaman ini? Tidak semua, namun bancian Kerajaan menunjukkan sedemikian. Saya terfikir, apakah masyarakat Cina yang tidak mampu berbahasa Melayu itu sebenarnya “warganegara Malaysia” atau hanya sekadar “masyarakat Cina” yang di”import lari luar” dan mengabui mata Kerajaan Malaysia. Apakah patutnya mereka diminta menunjukkan kad pengenalan mereka?
Saya pasti, tidak semua masyarakat Malaysia yang mampu membaca apa penulisan saya ini. Walaupun dberikan salinan artikel ini kepada mereka, tidak pasti sama ada mereka mampu mengeja setiap perkataan yang saya nukilkan. Namun, saya minta mereka belajar, atau jika tidak, persoalkan kembali ke”warganegaraan” yang mereka miliki.
Berkenaan dengan “alasan” yang diketengahkan oleh akhbar-akhbar Cina. Memang benar. Memang benar bahawa segelintir dari petugas dan pengurusan Kerajaan adalah lembap, kurang membantu dan malas. Saya setuju dengan hal ini. Saya secara peribadi menyeru dan meminta kepada golongan ini agar melakukan “transfromasi” dan perubahan drastik demi memastikan kemajuan negara. Tidak silap saya, hampir setiap minggu Menteri, Timbalan Menteri, KSU, Ketua Jabatan dan sebagainya melakukan “briefing” kepada penjawat awam. Penjawat awam ini diberikan semangat pada setiap minggu. Boleh dikatakan bahawa setiap tahun pihak Kerajaan memberikan kenaikan gaji dan pangkat kepada penjawat awam. Itu belum lagi dikira dengan bonus dan penyelarasan gaji yang diberikan sebagai insentif untuk memotivasikan penjawat awam. Jadi, mengapa penjawat awam tidak boleh berubah kepada lebih efisien dan mengalahkan penjawat swasta?
Puteraja

Kuala Lumpur, Malaysia
           
Saya ingin bertanya. Jika benar petugas atau penjawat awam Kerajaan adalah “lembap, kurang membantu dan malas”, kenapakah masyarakat Cina ini enggan untuk menjawat diri sebagai penjawat awam Kerajaan. Jika “petugas Kerajaan yang ada sekarang ini” tidak bagus pada pandangan mata masyarakat Cina di Malaysia, mengapa tidak menyertai mereka dan mengubah budaya tersebut dari dalam? Sekurang-kurangnya, petugas Kerajaan berbangsa Cina boleh berkomunisaki dengan masyarakat Cina yang tidak tahu berbahasa Melayu. Selesai satu masalah, bukan? Tapi, berapa sangat masyarakat Cina yang mahu menyertai penjawat awam? Boleh kira dengan jari.
Namun apa sekali pun, sikap “lembap, kurang membantu dan malas” dari petugas Kerajaan ini bukanlah satu “tiket besar” bagi rakyat Malaysia untuk tidak memberikan kerjasama selayaknya kepada petugas Kerajaan. Sepatutnya, sebagai rakyat Malaysia yang memiliki status “warganegara”, individu itu mestilah memberikan kerjasama yang terbaik kepada kempen Kerajaan ini. Apatah lagi pihak Kerajaan sedang cuba untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai Kerajaan. Salahkah jika kita memberikan kerjasama? Sekurang-kurangnya kita melaksanakan tanggungjawab sebagai warganegara Malaysia dan tidak pula menyalahi undang-undang. Sikap “suka syak wasangka buruk” kepada pihak Kerajaan itu patut dibuang dari setiap lapisan individu di Malaysia. Setahu saya, pihak Kerajaan sudah banyak berubah kepada lebih berbanding perkhidmatannya pada tahun 60an dan 70an. Terutamanya kini Malaysia dibawah pentadbiran Dato’ Seri Najib Tun Razak, percapaian petugas dan penjawat awam disetiap Kemeterian Kerajaan amat dititik beratkan beliau. Jika tidak, takkanlah beliau akan meletakkan syarat dan KPI tertentu pada setiap Kementerian negara kita.
Pada saya, setiap individu harus melakukan tanggungjawabnya sama ada sebagai rakyat warganegara Malaysia, mahupun sebagai petugas atau penjawat awam Kerajaan. Akhbar-akhbar berbahasa Cina pula tidak sepatutnya berfikiran negatif dan seakan-akan beraksi sebagai “nasi tambah” untuk memburukkan keadaan. Takut nanti “nasi menjadi bubur” pula. Sepatutnya, akhbar-akhbar berbahasa Cina ini turut memainkan peranan untuk meningkatkan kesedaran dan semangat nasionalisma yang tinggi di kalangan bangsa Cina di Malaysia. Dari itu, saya secara peribadi ingin menyeru agar masyarakat Cina untuk mengubas persepsi buruk yang cuba disemaikan pihak tertentu untuk merosakkan keharmonian masyarakat majmuk di Malaysia ini dan mengutamakan semangat nasionalisma yang tinggi sebagai tindak balas terhadap perkara negatif diminda masing-masing.

Undang-Undang Kebahasaan Indonesia
Era globalisasi...

Dua kata inilah yang membuat orang lupa akan bahasanya sendiri akibatnya bahasa Indonesia menjadi tidak bernyawa. Masyarakat bahkan para Petinggi Negara bila mendengar dua kata ini menjadi berubah bahasanya menjadi sekian derajat. Dulunya bahasa yang mereka gunakan tidak separah-parah amat, sehubungan dengan adanya era globalisasi bahasanya menjadi luntur karena bahasa asing yang datang ke Indonesia. Kita lihat contoh seperti yang dilakukan oleh Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono.
Ketika Anda baca di koran, sekilas melihat tulisan open house. Banyak sekali kata itu di media cetak ketika hari Raya Iedul Fitri tiba. Open house yang dilaksanakan di Istana negara untuk bertatap muka secara langsung dengan masyarakat Indonesia. Beliau sendiri pernah mendapatkan penghargaan sebagai pengguna bahasa yang baik dan benar (Kompas, Jumat, 28/10). Ternyata era globalisasi yang sederhana itu mempunyai makna yang sangat berarti dan sangat luas sehingga bisa menjadi penyalahgunaan bahasa.
Adanya era globalisasi bukan menjadi hambatan untuk mencintai bahasanya sendiri sebab bahasa Indonesia sudah menjadi bagian dari hidup kita seperti bahasa Indonesia merupakan alat pemersatu bangsa atau bahasa Nasional, bahasa Indonesia merupakan jati diri kita atau ciri khas sebagai bangsa Indonesia. Itulah sebabnya ada pepatah yang mengatakan Bahasa Menunjukkan Bangsa.
Filipina, Jepang, dan Perancis merupakan negara yang mencintai bahasanya sendiri. Sangat berbeda jauh sekali dengan negara Indonesia, walaupun adanya era globalisasi mereka tidak terpengaruh karena mereka mempunyai kredibilitas yang sangat tinggi.
Kita ambil contoh seperti di negara Perancis.
Awal April 2003, di Hotel Flat de Douai, Paris. Hotel yang harga inapnya setingkat dengan Santika di Yogyakarta. Alif Dansya Munsyi bertanya dalam bahasa Inggris yang belepotan kepada resepsionisnya. Resepsionis tersebut merupakan orang Perancis asli. Ia benar-benar “tidak mau” menjawab pertanyaan beliau dengan bahasa Inggris. Ia berkata dengan amat percaya diri memakai bahasa Perancis (Bahasa Menunjukkan Bangsa).
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Perancis merupakan negara yang sangat istimewa. Lihatlah nama hotel yang ditempati beliau. Itulah buktinya bahwa mereka mencintai bahasanya. Seandainya negara Indonesia seperti negara Perancis yang mencintai bahasanya, maka masyarakat Indonesia tidak lagi sok nginggris.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa era globalisasi bukan menjadi hambatan untuk mencintai bahasanya sendiri. Ternyata di bahasa oleh ahli-ahli bahasa yang terkenal dalam seminar di Jakarta yang membahas. Mencari jalan keluar dari kondisi Departemen Pendikan Nasional tengah menyusun Rancangan Undang-Undang Kebahasaan. Rancangan itu berfungsi untuk melindungi Undang-Undang penggunaan bahasa Indonesia, terutama dalam situasi formal.
Sedangkan, untuk penggunaan bahasa sehari-hari di dalam masyarakat tidak diatur. Bahasa gaul, prokem, slang, dan sebagainya tidak terlalu dipermasalahkan sepanjang tidak dipakai dalam situasi formal. Penggunaan variasi bahasa-bahasa tersebut selalu ada di dalam masyarakat yang berkembang. Penggunaan bahasa itu baru dirisaukan jika digunakan oleh media atau dalam situasi formal.
Rancangan Undang-Undang tersebut mempunyai cakupan yang terkait dalam aspek kenegaraan seperti pembuatan nota kesepakatan, dokumen resmi negara, surat resmi, pidato kenegaraan, pengantar pendidikan, pertemuan formal, nama lembaga pemerintah / swasta, geografi karya ilmiah, nota kesepahaman dalam dan luar negeri.
Cakupan lainnya meliputi nama bangunan, kawasan permukiman, informasi petunjuk produk, iklan juga akan diatur menggunakan bahasa Indonesia. Terkecuali yang merupakan lisensi dari luar. Demikian juga dengan papan petunjuk, slogan, petunjuk lalu lintas.
Rancangan perundangan itu juga akan mengatur penguasaan bahasa Indonesia bagi orang asing dan pengantar seleksi tenaga kerja (Kompas, 22/8)

Bahasa Indonesia itu penting diatur oleh Undang-Undang dikarenakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Bila bahasa Indonesia tidak diatur oleh Undang-Undang, masyarakat akan seenaknya menggunakan bahasa yang mereka anggap itu gaul
2. Penggunaan bahasa Indonesia yang baku harus digunakan pada situasi formal
Menurut saya, sanksi-sanksi yang harus diberlakukan oleh Undang-Undang yaitu ada dua jenis di antaranya:
1. Sanksi ringan
• Tidak boleh berbicara selama satu hari
• Membayar denda sekitar Rp 20.0000.000,00
2. Sanksi berat
Hukuman penjara selama 3,5 tahun
Mengatur penggunaan bahasa merupakan hal yang sangat sulit dikarenakan beberapa faktor yaitu, yang pertama dialek daerah masing-masing yang sangat melekat tiap individu dan yang sekarang tengah berkembang di Indonesia adalah penggunaan bahasa gaul. Sulitnya melepaskan cara berbahasa ini diikuti dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar maka akan sangat sulit bagi pemerintah untuk mengimplementasikan Undang-Undang Kebahasaan ini dalam masyarakat.
Maka menurut saya sebaiknya tujuan pemerintah untuk mengatur penggunaan bahasa ini dimulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya memulai penggunaan bahasa Indonesia yang baku dalam lingkungan pendidikan dimulai dari tingkat pendidikan yang rendah. Saya maksudkan di sini, kita melihat bahwa dalam lingkungan kampus mahasiswa yang menggunakan bahasa Indonesia yang baku sangat jarang bahkan tidak ada, oleh sebab itu Undang-Undang Kebahasaan ini sebaiknya mulai diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan.
Perlu ditekankan pada pemerintah bila ingin membuat Undang-Undang Kebahasaan yaitu Pemerintah sendiri pun harus mengubah bahasanya bila ingin membentuk Rancangan Undang-Undang Kebahasaan. Jangan sampai pemerintah malah menghancurkan bahasa Indonesia.
Pemerintah pun harus konsekuen terhadap Undang-Undang ini. Bagaimana tidak, apa yang dilakukan oleh pemerintah selama ini tidak berjalan lancar. Undang-Undang Kebahasaan yang di rancang dari bulan Agustus ternyata belum kelar-kelar. Eh... pemerintah malah membuat Undang-Undang baru yaitu Undang-Undang Guru. Memang sih tidak masuk akal dimasukkan di sini.
Menurut saya yang penting didahulukan yaitu Undang-Undang Kebahasaan jadi saya mengnginkan pemerintah bahwa pemerintah harus selalu mengerjakan pekerjaan yang belum selesai terpecahkan sebab bila ditunda-tunda lagi penggunaan bahasa Indonenglish akan semakin marak atau akan semakin banyak yang sering menggunakannya.

Mahasiswa Fikom Unpad 2005

Siapa anda ? Apa ras anda?


Siapa anda ?

Saya mencintai jiwa/ esensi negro? namun tidak untuk fisik dan kapasitas kognitifnya.
Saya tidak mencintai fisik negro, namun saya terpaksa mencintainya. Itu semua karena Goethe pernah bilang "Ignorant men raise questions that wise men answered a thousand years”. Kebaikan selalu hadir dengan terlebih dulu tampil konsep keburukan. Disini mari kita bersama-sama belajar untuk memunculkan  posisi yang diberikan Tuhan pada tempatnya agar bersama-sama menjadi terang benderang, jelas sehingga kita dapat mudah fahami. Yaitu yang hina diposisikan untuk berdiri  di sudut kiri dan yang Mulia berderet disebelah kanan. Tanpa Kejahatan, maka kita tidak akan mampu mengenal makna ‘baik’. Tanpa Dingin, maka Api tidak akan berguna. Pisahkan antara dua entitas yang saling bersebrangan, galilah esensinya, raihlah maknanya. Tuhan pasti tidak sia-sia dalam menciptakan segala sesuatu.

Esensi mahluk hidup pada dasarnya sama, dia mampu berkembang jika masuk kedalam fisik yang menunjang, namun bisa mengkerdil jika masuk ke fisik yang kontra evolusioner. Jiwa monyet walau jatuh kedalam fisik manusia pun, maka dia tetap jiwa yang mampu berkembang cerdas, namun jiwa manusia yang masuk kedalam fisik ayam, maka dia hanya mampu berkotek-berkokok. Stagnan lewat kedua sayap dan tembolok penghalang perkembangan evolusinya. Manusia memiliki jari, mata, kaki, duodenum, lobus frontalis, telinga, hidung, semua komponen penerjemah isyarat alam yang digunakan untuk berkuasa. Kualitas tubuh manusia semua adalah alat pragmatis yang menunjang pembelajaran evolusionernya. Inilah mengapa manusia adalah pemimpin di muka bumi, berkuasa diantas burung di udara, ikan dilautan dan mahluk darat lainnya, wajah dan gambar Tuhan di muka bumi.

Apa ras anda?

Pertanyaan ini membuat beberapa diantara kita ketar-ketir. Sebagian merinding dengan gemeletuk gigi, namun sebagian menyambut gembira. Yang gentar dan merinding karena menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bahwa tidak ada yg patut dibanggakan dari karya kolektif leluhurnya. Yang gembira tentu beda, ada sebuah alasan bagi eksistensi kreatif tertentu untuk berbangga. Menjadi berkah bagi semesta alam atau kutukan, sebuah pilihan yang terlanjur diambil leluhur mereka. Saya menasihati agar pilih persahabatan dari kedekatan etnis, warna kulit atau budaya. Tanpa sebuah kebudayaan yang mumpuni posisi saya berada dalam kondisi seteru dengan anda. Anda musuh eksistensi saya. Kebaikan adalah musuh konstan dari kejahatan. Order dan disorder tidak bercampur bersama. Demi kemaslahatan, entropi yg meninggi wajib ditumpas bergandengan tangan bagi sebuah kreasi dunia yg lebih baik. Bukan untuk siapa-siapa, namun untuk anak cucu kita, manusia yang beridentitas luhur "berbudaya".

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. Al Isra’ : 70).

~yz

http://www.sentaninews.com/2011/12/tahun-2012-papua-terima-uang-rp-333.html